Sabtu, 27 Desember 2008

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR

A. PENGERTIAN PLTN

  • Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir,adalah sumber energi alternatif yang digunakan untuk membangkitkan energi listrik
  • Pembangkit listrik tenaga nuklir adalah stasiun pembangkit listrik thermal dimana panas yang dihasilkan diperoleh dari satu atau lebih reaktor nuklir pembangkit listrik.

B. SEJARAH PLTN

Pembangkit listrik tenaga nuklir dikembangkan karena sumber energi minyak bumi adalah satu – satunya sumber energi untuk pembangkit listirk. Reaktor nuklir Yg pertama kali adalah stasiun pembangkit percobaan EBR-Ipada 2O Desember 1951 di dekat Arco, Idaho, Amerika Serikat. Pada 27 Juni 1954, PLTN pertama dunia yang menghasilkan listrik untuk jaringan listrik (power grid) mulai beroperasi di Obnins, Uni Soviet.

C. JENIS PLTN

  • Reaktor Air Tekan PWR (Pressure Water Reactor)
  • Reaktor Temperatur Tinggi atau HTGR (High Temperature Gas Reactor)
  • Reaktor Air Didih atu BWR (Boiling Water Reactor
  • LMFBR (Liquid Metal Fast Breeding Reactor)
  • Reaktor Pendingin Gas (Gas Cooled Reactor, GCR)

D. Reaksi fisi

Reaktor tak lain adalah tempat bereaksi. Dalam hal ini, pengertian sehari hari yang dipakai ialah reaksi inti. Reaksi fisi adalah suatu reaksi pembelahan, yang disebabkan oleh neutron yang secara umum dapat ditulis sebagai:

X + n ——> X1 + X2 + (2 - 3) n + E.

Beberapa hal yang perlu diketahui dalam jenis reaksi tersebut adalah:

1). X disebut inti bahan fisil (fisile material), yang secara populer disebut "bahan bakar" karena dalam reaksi ini dibebaskan sejumlah energi. Hanya beberapa inti dapat bereaksi fisi yaitu 238U, 235U, 233U dan 239Pu di mana kedua unsur terakhir merupakan unsur buatan manusia karena tidak terdapat di alam sebagai hasil dari reaksi inti-inti 232Th dan dan 238U dengan neutron.

2). Keboleh jadian suatu inti berfisi dinyatakan dengan sf (fission microscopic cross section = penampang fisi mikroskopik), di mana besaran tersebut tergantung dari energi neutron yang bereaksi dengan suatu inti-tertentu. Sebagai contoh dapat disebutkan bahwa nilai sf 238U besar pada energi neutron rendah (termal) tetapi kecil pada energi tinggi. Sebaliknya nilai sf 238U kecil pada saat neutron berenergi besar. Untuk 239Pu dan 233U mempunyai sf besar pada energi tinggi, oleh karena itu bahan ini digunakan sebagai bahan bakar pada reaktor cepat.

3). Dari reaksi dihasilkan dua inti baru sebaga hasil fisi, X1 dan X2 yang berupa inti-inti yang tidak stabil. Untuk menjadi stabil inti-inti tersebut meluruh (decay) dengan mengeluarkan sinar-sinar maupun partikel.

4). Adanya neutron-neutron baru yang dihasilkan dari reaksi inti tersebut dapat melanjutkan reaksi fisi hingga mungkin terjadi reaksi berantai, dan pada keadaan tertentu bila tidak dikendalikan maka reaksi berantai tersebut dapat menjadi suatu ledakan. Reaksi nuklir yang tidak terkendali merupakan prinsip kerja bom nuklir. Neutron yang dihasilkan oleh fisi mempunyai energi yang tinggi, ± 2 MeV, jika fisii diharapkan terjadi pada En rendah (energi termal 0,025 eV), maka neutron yang baru lahir tersebut harus diturunkan energinya dahulu dengan jalan hamburan-hamburan. Di dalarn reaktor neutron mempunyai kemungkinan-kemungkinan untuk:

a. diserap tanpa menimbulkan fisi

b. diserap mengakibatkan fisi

c. hilang dari sistim

d. hamburan

Jadi penurunan energi neutron berkompetisi dengan kemungkinankemungkinan yang lain, dan untuk dapat menghitung masing-masing kemungkinan perlu diselidiki mekanisme reaksi masing-masing.

5). Reaksi fisi mengeluarkan energi total E, sebesar 200 MeV. Dengan menggunakan data konversi satuan dan data fisika, dapat dihitung bahwa bila semua inti-inti 1 gram uranium melakukan fisi maka kalor yang dikeluarkan setara dengan kalor yang dihasilkan oleh pembakaran 1 ton batu bara. Jelas dari gambaran tersebut bahwa, kalor yang dikeluarkan dari reaksi inti sangat besar.

Telah dijelaskan bahwa reaktor yang lazim dipakai saat ini bekerja atas dasar reaksi fisi (pemecahan) inti atom. Sebagai bahan bakar umumnya digunakan Uranium 235U yang kandungannya telah diperkaya. Uranium alam mempunyai kandungan 235U hanya sekitar 0,7 persen, selebihnya adalah 238U.

Untuk memecah inti isotop Uranium digunakan neutron lambat ('thermalneutron'). Uranium yang menangkap neutron segera menjadi tidak stabil. Inti Uranium yang tidak stabil hanya dapat bertahan selama kurang lebih sepertriliun detik (10-12 detik) sebelum mengalami proses fisi menjadi inti-inti X1 dan X2 serta sekitar dua sampai tiga neutron yang siap untuk memecah inti 235U lainnya. Kemudian ketiga neutron tadi diserap oleh inti-inti isotop Uranium lain, tiga proses yang sama akan terjadi dengan produksi akhir sekitar sembilan neutron. Proses berulang-ulang ini dinamakan reaksi berantai ('chain reaction') yang merupakan prinsip kerja reaktor. Pada setiap proses pemecahan tadi, inti atom akan melepaskan energi yang sesuai dengan hilangnya jumlah massa inti-inti di akhir proses rumus E=mc2. Jadi jumlah energi yang dihasilkan akan sebanding dengan banyak proses yang terjadi dan sebanding dengan jumlah neutron yang dihasilkan.

Untuk mengendalikan atau mengatur reaksi berantai dalam reaktor nuklir digunakan bahan yang dapat menyerap neutron misalnya Boron dan Cadmium, yang bertujuan untuk mengatur populasi neutron. Dengan mengatur populasi neutron ini dapat ditentukan tingkat daya raktor, bahkan reaksi dapat dihentikan sama sekali (tingkat daya mencapai titik 0) pada saat semua neutron terserap oleh bahan penyerap. Perangkat pengatur populasi neutron pada reaktor ini disebut batang kendali. Jika batang kendali disisipkan penuh diantara elemen bakar, maka batang kendali akan menyerap neutron secara maksimum sehingga reaksi berantai akan dihentikan dan daya serap batang kendali akan berkurang bila batang kendali ditarik menjauhi elemen bakar.

Reaksi fisi


SUMBER ENERGI UTAMA

SUMBER ENERGI

Energi

Bahan bakar per 1000 MWe


per kg bahan bakar

plant per tahun

Fisi Nuklir

50.000 kWh

30 ton

Batu bara

3 kWh

2.600.000 ton

Minyak bumi

4 kWh

2.000.000 ton


E. PRINSIP KERJA PLTN REAKTOR AIR DIDIH ( BOILING WATER REACTOR,BWR )

Pada reaktor air didih, air pendingin dididihkan di dalam bejana reaktor sehingga menghasilkan uap. Uap ini kemudian secara langsung dialirkan ke turbin yang memutar generator listrik. Setelah uap air menggerakkan turbin,uap disalurkan ke kondenser dan diubah menjadi air kembali. Dengan pompa utama, air kemudian dikembalikan ke bejana reaktor. Sebagian air pendingin yang berada dalam bejana reaktor disirkulasi dengan pompa (disebut pompa resirkulasi). Air yang keluar dari pompa resirkulasi disalurkan ke bagian bawah teras reaktor melalui katup yang bekerja sebagai pompa jet. Tekanan dari pompa resirkulasi ini akan menaikkan kecepatan aliran air pendingin dalam teras reaktor.

Reaktor tipe ini menggunakan air (H2O) sebagai pendingin dan moderator, Air pendingin digunakan untuk mengambil panas yang dihasilkan dalam teras reaktor (reactor core) sehingga temperatur air akan naik. Temperatur air dibiarkan meningkat hingga mencapai titik didih. Uap yang dihasilkan pada proses pendidihan air kemudian disalurkan untuk memutar turbin yang terhubung dengan generator listrik.

F. Sistem keselamatan

Pada saat terjadi penyesuaian terhadap permintaan beban, tekanan pendingin dalam bejana reaktor dapat naik atau turun. Untuk mengatasi kenaikan dan penurunan tekanan dalam bejana reaktor, digunakan cara pengendalian dengan mengatur bukaan katup uap dari reaktor ke turbin. Metode ini disebut Reactor-master/Turbin-slave (metode mengikuti beban). Jika pada suatu ketika, oleh suatu sebab yang tak terduga, turbin mendadak berhenti,aliran uap yang menuju turbin dibelokkan ke jalur pintas (tidak melalui turbin) melalui katup pintas. Dengancara ini kenaikan tekanan yang cukup tinggi dalam bejana reaktor dapat dihindarkan. Bila suatu ketika terjadi kecelakaan yang menyebabkan pipa saluran air pendingin terputus atau bocor sehingga pendinginan reaktor tidak cukup, maka fasilitas sistem pendinginan teras darurat (Emergency Core Cooling System, ECCS) bekerja. Dalam sistem ECCS ini terdapat sistem penyemprot teras (core spray system), sistem susut tekanan mandiri (self-depressurization system) dan penyemprot teras tekanan rendah.

Sebelumnya telah dijelaskan salah satu sistem keselamatan yang dapat menjamin reaktor akan berhenti jika terjadi kondisi anomali / kecelakaan. Bila suatu ketika terjadi kecelakaan yang menyebabkan pipa saluran air pendingin terputus atau bocor sehingga pendinginan reaktor tidak cukup, maka fasilitas sistem pendinginan teras darurat (Emergency Core Cooling System, ECCS) seperti terlihat pada Gambar 5-1 dan 5-2 bekerja. Dalam sistem ECCS ini terdapat sistem penyemprot teras (core spray system), sistem susut tekanan mandiri (self-depressurization system) dan penyemprot teras tekanan rendah.Pada saat terjadi kerusakan batang bahan bakar, air pendingin dari teras yang bertekanan tinggi dan bertemperatur tinggi akan mengandung bahan radioaktif yang berasal dari batang bahan bakar. Air pendingin yang mengandung bahan radioaktif tidak boleh keluar dari reaktor karena berbahaya. Untuk menghindari lepasnya bahan radioaktif dalam reaktor terdapat bejana reaktor yang berfungsi sebagai pengungkung (containment) material berbahaya jika terjadi kecelakaan, dan terdapat juga katup isolasi yang mengisolasi bejana reaktor dan sistem di luarnya. Peningkatan tekanan pada saat terjadi isolasi bejana reaktor dihindari dengan sistem supresi. Sistem ini akan mengalirkan uap yang terbentuk ke kolam supresi. Dalam kolam supresi yang berisi air, uap akan besentuhan dengan air dan mengalami kondensasi yang mengakibatkan turunnya tekanan uap.Apabila kecelakaan berlangsung dalam waktu yang lama, teras reaktor dapat meleleh. Kondisi ini akan menyebabkan terjadinya kenaikan tekanan yang diikuti dengan kenaikan temperatur dalam bejana reaktor.Apabila bejana reaktor tidak didinginkan, struktur bejana kemungkinan akan rusak. Untuk mengatasi hal ini, disediakan sistem penyemprot untuk melakukan tugas-tugas pendinginan dan penurunan tekanan. Dalam hal terjadi kebocoran bejana reaktor, disediakan pula sistem pengelolaan bocoran gas agar tetap tidak menyebarluas ke lingkungan.Pada kecelakaan kebocoran pendingin, temperatur bahan bakar dan kelongsongnya akan naik. Kenaikan temperatur ini akan memicu reaksi antara air dan logam yang menghasilkan gas hidrogen. Hidrogen yang bertemperatur tinggi ini dapat mengancam keutuhan struktur bejana reaktor. Untuk mencegah kejadian ini,bejana reaktor dilengkapi dengan ruang kosong khusus untuk menampung gas bentukan. Di samping itu,terdapat fasilitas untuk mereaksikan hidrogen yang timbul, agar dapat bergabung kembali dengan oksigen menjadi air.

G. Jenis reaktor air didih

Reaktor Air Didih Maju (Advanced Boiling WaterReactor, ABWR)



Reaktor Air Didih Termodifikasi (Modified BWR)


H. Perbandingan kerja ABWR dan BWR



H. Dampak dari PLTN

Beberapa dampak yang ditimbulkan oleh PLTN

  • Limbah Radioaktif : limbah radioaktif yang dihasilkan termasuk dalam kategori limbah khusus berbahaya
  • Radiasi : Radiasi yang berasal dari bahan radioaktif dapat menimbulkan kontaminasi terhadap manusia dan biosfernya.

I. KEUNGGULAN PLTN

  • Tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca
  • Tidak menghasilkan gas-gas berbahaya
  • Sedikit menghasilkan limbah padat
  • Biaya bahan bakar rendah
  • Sangat sedikit menghasilkan sehingga dapat menhgurangi pemanasan global

J. KEKURANGAN PLTN

  • Bahaya radiasi yang dapat membahayakan makhluk hidup
  • Limbah radioaktif tingkat tinggi yang dihasilkan dapat bertahan hingga ribuan tahun
  • Resiko kecelakaan nuklir : kecelakaan nuklir terbesar adalah kecelakaan Chernobyl (yang tidak mempunyai containment building)

K. KESIMPULAN

Energi tenaga nuklir saat ini di Indonesia masih hanya sekedar teori dan perencanaan, namun untuk mereallisasikannya masih sulit karena banyak pro dan kontra, padahal jika dikelola dengan baik dan benar dapat mengatasi krisis energi yang terjadi di Indonesia.

Jumat, 19 Desember 2008

TUGAS CO GENERATOR

PROPOSAL

"MOBIL PEMBANGKIT LISTRIK“

Diajukan untuk memenuhi tugas energi konversi

Oleh

ASEP TARBINI (0807812)


JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO




FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

2008




BAB I
PENDAHULUAN

Berbagai persoalan tak henti - hentinya muncul di negeri ini. Salah satu persoalan yang cukup menjadi perhatian adalah persoalan krisis energi. Berbagai jenis energi jumlahnya terus berkurang, bahkan ada yang telah habis. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka pemerintah menganjurkan kepada masyarakat untuk menghemat energi, serta memanfaatkan energi baru dan terbarukan.
Atas latar belakang tersebut, maka penulis merencanakan sebuah pembangkit listrikdengan memanfaatkan energi yang terbuang. Pembangkit listrik ini dinamakan "Mobil Pembangkit Listrik".




BAB II
PRINSIP KERJA

Seperti namanya, Mobil Pembangkit Listrik ini memanfaatkan suatu energi terbuang dari sebuah mobil. Seperti pembangkit listrik lainnya, dalam proyek ini juga menggunakan sebuah generator untuk membangkitkan tenaga listrik.

Gambar diatas merupakan gambar kerja dari proyek ini. Gardan yang fungsi subenarnya adalah untuk memutar ban mobil, dikopel secara langsung ke sebuah genertor. Gerakan gardan tersebut akan memutar genenerator, sehingga dalam generator tersebut terjadi perpotongan gaya magnet yang akan menimbulkan tenaga listrik. Listrik tersebut, kemudian di simpan di dalam battery atau accumulator. Jadi, Mobil Pembangkit Listrik ini menggunakan dua accumulator. Accumulator yang pertama digunakan untuk memenuhi kebutuhan kelistrikan mobil itu sendiri, sedangkan accumulator yang kedua digunakan untuk menyimpan tenaga listrik yang dihasilkan dari generator. Daya yang dihasilkan diperkirakan dapat mencapai 500 - 800 watt.


Keuntungan Mobil Pembangkit Listrik :
  • Bisa menjadi solusi krisis energi
  • Memanfaatkan energi yang terbuang
  • Energi yang dihasilkan cukup besar untuk dipakai dalam rumah tangga

Kerugian Mobil Pembangkit Listrik :
  • Tidak semua jenis mobil dapat dimodifikasi menjadi pembangkit listrik
  • Kecepatan putaran kadang tidak stabil
  • Membutuhkan tempat yang luas untuk menyimpan genertor dan accumulator





BAB III
KESIMPULAN

Pembangkit listrik ini merupakan pembangkit listrik yang menggunakan enerrgi yang terbuang sebagi sumber bahan pembangkitan. Menggunakan sebuah generator yang dikopel secara langsung dengan gardan mobil supaya dapat berputar dan menghasilkan tenaga listrik. Tenaga listrik tersebut kemudian disimpan dalam accumulator.














Selasa, 28 Oktober 2008

Pembangkitan Tenaga Surya

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), adalah pembangkit yang memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber penghasil listrik. Alat utama untuk menangkap, perubah dan penghasil listrik adalah Photovoltaic atau yang disebut secara umum Modul / Panel Solar Cell. Dengan alat tersebut sinar matahari dirubah menjadi listrik melalui proses aliran-aliran elektron negatif dan positif didalam cell modul tersebut karena perbedaan electron. Hasil dari aliran elektron-elektron akan menjadi listrik DC yang dapat langsung dimanfatkan untuk mengisi battery / aki sesuai tegangan dan ampere yang diperlukan. Rata-rata produk modul solar cell yang ada dipasaran menghasilkan tegangan 12 s/d 18 VDC dan ampere antara 0.5 s/d 7 Ampere. Modul juga memiliki kapasitas beraneka ragam mulai kapsitas 10 Watt Peak s/d 200 Watt Peak juga memiliki type cell monocrystal dan polycrystal. Komponen inti dari sistem PLTS ini meliputi peralatan : Modul Solar Cell, Regulator / controller, Battery / Aki, Inverter DC to AC, Beban / Load. Perusahaan kami telah mengembangkan beberapa produk PLTS yang digunakan untuk rumah tangga dengan skala kecil, contoh paket produk kami adalah Penerangan Listrik Rumah (PLR).
Secara sederhana
solar cell terdiri dari persambungan bahan semikonduktor bertipe p dan n (p-n junction semiconductor) yang jika tertimpa sinar matahari maka akan terjadi aliran electron, nah aliran electron inilah yang disebut sebagai aliran arus listrik. Sedangkan struktur dari solar cell adalah seperti ditunjukkan dalam gambar 1
Gambar 1. Struktur lapisan tipis solar sel secara umum

Bagian utama perubah energi sinar matahari menjadi listrik adalah absorber (penyerap), meskipun demikian, masing-masing lapisan juga sangat berpengaruh terhadap efisiensi dari solar cell. Sinar matahari terdiri dari bermacam-macam jenis gelombang elektromagnetik yang secara spectrum dapat dilihat pada gambar 2. Oleh karena itu absorber disini diharapkan dapat menyerap sebanyak mungkin solar radiation yang berasal dari cahaya matahari.
Gambar 2. Spektrum radiasi sinar matahari

Lebih detail lagi bisa dijelaskan sinar matahari yang terdiri dari photon-photon, jika menimpa permukaaan bahan solar sel (absorber), akan diserap, dipantulkan atau dilewatkan begitu saja (lihat gambar 3), dan hanya foton dengan level energi tertentu yang akan membebaskan electron dari ikatan atomnya, sehingga mengalirlah arus listrik. Level energi tersebut disebut energi band-gap yang didefinisikan sebagai sejumlah energi yang dibutuhkan utk mengeluarkan electron dari ikatan kovalennya sehingga terjadilah aliran arus listrik. Untuk membebaskan electron dari ikatan kovalennya, energi foton (hc/v harus sedikit lebih besar atau diatas daripada energi band-gap. Jika energi foton terlalu besar dari pada energi band-gap, maka extra energi tersebut akan dirubah dalam bentuk panas pada solar sel. Karenanya sangatlah penting pada solar sel untuk mengatur bahan yang dipergunakan, yaitu dengan memodifikasi struktur molekul dari semikonduktor yang dipergunakan.
Gambar 3. Radiative transition of solar cell

Tentu saja agar efisiensi dari solar cell bisa tinggi maka foton yang berasal dari sinar matahari harus bisa diserap yang sebanyak banyaknya, kemudian memperkecil refleksi dan remombinasi serta memperbesar konduktivitas dari bahannya.

Untuk bisa membuat agar foton yang diserap dapat sebanyak banyaknya, maka absorber harus memiliki energi band-gap dengan range yang lebar, sehingga memungkinkan untuk bisa menyerap sinar matahari yang mempunyai energi sangat bermacam-macam tersebut. Salah satu bahan yang sedang banyak diteliti adalah CuInSe2 yang dikenal merupakan salah satu dari direct semiconductor.


SPESIFIKASI SEL SURYA

Dasar Sel Surya

Sel Surya diproduksi dari bahan semikonduktor yaitu silikon—berperan sebagai insulator

pada temperatur rendah dan sebagai konduktor bila ada energi dan panas. Sebuah Silikon Sel

Surya adalah sebuah diode yang terbentuk dari lapisan atas silikon tipe n (silicon doping3 of

“phosphorous”), dan lapisan bawah silikon tipe p (silicon doping of “boron”).

Gambar 5. Diagram dari sebuah potongan Seln Surya (PV sel)

Sebuah proses yang menambahkan sejumlah bahan phosphorous dan buron ke bahan silikon murni, untuk menciptakan ketidak seimbangan antar atom silikon, phosphorous dan buron, sehingga menyebabkan terjadinya reaksi photovoltaic. (semikonduktor mempunyai atom yang berkategori 3, 4 & 5 elektron; sedangkan silikon = 4 elektron, phosphorous = 5 elektron, buron = 3 elektron). Elektron-elektron bebas terbentuk dari million photon atau benturan atom pada lapisan penghubung (junction= 0.2-0.5 micron4) menyebabkan terjadinya aliran listrik.

Perkembangan Sel Surya

Pengembangan Sel Surya Silikon secaraIndividu (chip) :

a. Mono-crystalline (Si)

Dibuat dari silikon kristal tunggal yangdidapat dari peleburan silikon dalam bentuk

bujur. Sekarang Mono-crystalline dapatdibuat setebal 200 mikron, dengan nilai

effisiensi sekitar 24%.

b. Poly-crystalline/Multi-crystalline (Si)

Dibuat dari peleburan silikon dalam tungkukeramik, kemudian pendinginan perlahan

untuk mendapatkan bahan campuran silikonyang akn timbul diatas lapisan silikon. Sel ini

kurang efektif dibanding dengan sel Polycrystalline( efektivitas 18% ), tetapi beaya

lebih murah.c. Gallium Arsenide (GaAs)Sel Surya III-V semikondu

ktor yang sangat

efisien sekitar 25%.

Sel Surya Silikon Terpadu “Thin Film”

a. Amorphous Silikon (a-Si)

Banyak dipakai pada jam tangan dankalkulator, sekarang dikembangkan untuk

sistim bangunan terpadu sebagai penggantitinted glass yang semi-transparan.

b. Thin Film Silikon (tf-Si)

Dibuat dari thin-crystalline atau polycrystallinepada grade bahan metal yang

cukup murah (cladding system).

c. Cadmium Telluride (CdTe)

Terbentuk dari bahan materi thin film polycrystalline secara deposit, semprot, dan

evaporasi tingkat tinggi. Nilai efisiensi 16%

d. Copper Indium Diselenide (CulnSe2/CIS)

Merupakan bahan dari film tipis polycrystalline. Nilai efisiensi 17.7%.

e. Chalcopyrites [Cu(In,Ga)(S,Se)2]5

f. Electrochemical Cells.

Sebuah Sel Surya dalam menghasilkan energi listrik (energi sinar matahari menjadi

photon) tidak tergantung pada besaran luas bidang Silikon, dan secara konstan akan

menghasilkan energi berkisar ± 0.5 volt — max. 600 mV pada 2 amp6, dengan kekuatan radiasi solar matahari 1000 W/m2 = ”1 Sun” akan menghasilkan arus listrik (I) sekitar 30 mA/cm2 per sel surya. Pada grafik I-V Curve dibawah yang menggambarkan keadaan sebuah Sel Surya beroperasi secara normal. Sel Surya akan menghasilkan energi maximum jika nilai Vm dan I

m juga maximum. Sedangkan Isc adalah arus listrik maximum pada nilai volt = nol; Isc berbanding langsung dengan tersedianya sinar matahari. Voc adalah volt maximum pada nilai arus nol; Voc naik secara logaritma dengan peningkatan sinar matahari, karakter ini yangme

mungkinkan Sel Surya untuk mengisi accu.

Gambar 6. Grafik I-V Curve

Isc = short-circuit current

Vsc = open-circuit voltage

Vm = voltage maximum power

Im = current maximum power

Pm = Power maximum-output dari PV array (watt)

Faktor Pengoperasian Sel Surya

Pengoperasian maximum Sel Surya sangat tergantung pada :
a. ambient air temperature
b. radiasi solar matahari (insolation)
c. kecepatan angin bertiup

d. keadaan atmosfir bumi
e. orientasi panel atau array PV
f. posisi letak sel surya (array) terhadapmatahari (tilt angle )
a. Sebuah Sel Surya dapat beroperasi secaramaximum jika temperatur sel tetap normal
(pada 25 derajat Celsius), kenaikantemperatur lebih tinggi dari temperatur normal pada PV sel akan melemahkan voltage (Voc). Setiap kenaikan temperatur Sel Surya 1 derajat celsius (dari 25 derajat) akanberkurang sekitar 0.4 % pada total tenaga yang dihasilkan8 atau akan melemah 2x lipat untuk kenaikkan temperatur Sel per 10derajad C.

Gambar 7. Effect of Cell Temperature on Voltage (V)

b. Radiasi solar matahari di bumi dan berbagai lokasi bervariable, dan sangat tergantung
keadaan spektrum solar ke bumi. Insolation solar matahari akan banyak berpengaruh pada current (I) sedikit pada volt.


Gambar 8. Effect of Insolation Intensity on Current (I)

c. Kecepatan tiup angin disekitar lokasi PV array dapat membantu mendinginkan permukaan temperatur kaca-kaca PV array.
d. Keadaan atmosfir bumi—berawan, mendung, jenis partikel debu udara, asap, uap air udara
(Rh), kabut dan polusi sangat mementukan hasil maximum arus listrik dari deretan PV.
e. Orientasi dari rangkaian PV (array) ke arah matahari secara optimum adalah penting agar
panel/deretan PV dapat menghasilkan energi maximum. Selain arah orientasi, sudut
orientasi (tilt angle) dari panel/deretan PV juga sangat mempengaruhi hasil energi
maximum (lihat penjelasan tilt angle). Sebagai guidline: untuk lokasi yang terletak
di belahan Utara latitude, maka panel/deretan PV sebaiknya diorientasikan ke Selatan,
orientasi ke Timur—Barat walaupun juga dapat menghasilkan sejumlah energi dari
panel-panel/deretan PV, tetapi tidak akanmendapatkan energi matahari optimum.
f. Tilt Angle (sudut orientasi Matahari) Mempertahankan sinar matahari jatuh ke sebuah permukaan panel PV secara tegak lurus akan mendapatkan energi maximum ± 1000 W/m2 atau 1 kW/m2. Kalau tidak dapat mempertahankan ketegak lurusan antara sinar matahari dengan bidang PV, maka extra luasan bidang panel PV dibutuhkan (bidang panel PV terhadap sun altitude yang berubah setiap jam dalam sehari).

Solar Panel PV pada Equator (latitude 0 derajat) yang diletakkan mendatar (tilt angle = 0) akan menghasilkan energi maximum, sedangkan untuk lokasi dengan latitude berbeda harus dicarikan “tilt angle” yang optimum. Perusahaan BP Solar telah mengembangkan sebuah software untuk menghitung & memperkirakan energi optimum dengan letak latitude, longitude, dan optimum tilt angle untuk setiap lokasi diseluruh dunia.
Gambar 9. Extra Luasan Panel PV dalam posisi datar

Photovoltaics (PV) Generator
Agar dapat memperoleh sejumlah voltage atau ampere yang dikehendaki, maka umumnya
masing-masing sel surya dikaitkan satu sama lainnya baik secara hubungan “seri” ataupun
secara “pararel” untuk membentuk suatu rangkaian PV yang lazim disebut “Modul”.
Sebuah modul PV umumnya terdiri dari 36 sel surya atau 33 sel, dan 72 sel.
Beberapa modul pv dihubungkan untuk membentuk satu rangkaian tertentu disebut “PV
Panel” , sedangkan jika berderet-deret modul pv dihubungkan secara baris dan kolom disebut “PV Array”.Gambar 10. Diagram Hubungan Sel Surya, Modul,Panel & Array

Hubungan sel-sel surya dalam Modul dapat dilakukan secara “Seri” untuk mendapatkan
varian voltage umumnya 12V, dan secara “Pararel” untuk mendapatkan varian “Arus
Listrik” (current).
Hubungan Modul-modul PV pada Array juga dapat dihubungkan secara “Seri” untuk mendapatkan voltage yang tinggi, dan dihubungkan secara “Parerel” untuk mendapatkan amps yang besar.Gambar11. Diagram Rangkaian Modul PV dalamArray.

Photovoltaic (PV) System

Aliran listrik yang didapat dari panel/deretan PV akan berupa listrik DC—direct current, kemudian disimpan ke accu, dan sebagian listrik DC dirubah ke AC—alternating current dengan alat inverter (DC dirubah ke AC) untuk dipakai dengan alat “household”—lemaries, TV, lampu-lampu, pompa air, dsb., kemudian sebagian DC dapat dipakai langsung untuk sebagian alat dengan spesifikasi DC.
Ada 3 Sistim Rangkaian PV :
1. Sistim DC semua. (gambar 12)
2. Sistim DC dan AC (gambar 13)
3. Sistim interaktip DC, AC dan jaringan listrik
lokal PLN. (gambar 14)


Gambar 12. Sistim dan Beban dengan DC

Gambar 13. Sistim DC dan AC


Gambar 14. Interaktip DC, AC, dan Jaringan lokal PLN



Senin, 13 Oktober 2008

Bangkitkan Listrik dari Suara Mobil

Tokyo - Menghadapi krisis energi? Tak perlu pusing. Tengok Jepang, negara miskin sumber energi fosil tapi diberkahi dengan orang-orang cerdas yang bisa mengubah impian menjadi kenyataan.

Para ahli dari Negeri Sakura itu mampu membangkitkan energi listrik dari suara dan getaran mobil yang lalu lalang. Energi yang dibuang percuma begitu saja oleh orang lain.

Membentang di atas sungai Arakawa, Goshiki-Zakura-Ohashi-Bridge, menjadi contoh pertama dari teknologi ini. Jembatan ini sudah memanfaatkan getaran dari mobil yang lalu lalang untuk membangkitkan energi listrik yang dipakai untuk penerangan di malam hari.

Menurut situs Japansfs.org, proyek itu dikembangkan oleh Metropolitan Expressway Co. Perusahaan ini membangun, renovasi, merawat dan mengelola administrasi jalan tol di seputar Tokyo.

Mereka telah mengumumkan proyek ini sejak akhir 2007.

Setelah diaplikasikan di jembatan itu, teknologi ini juga akan dipakai di empat jembatan lain dalam jaringan jalan tol Shuto Expressway, Tokyo.

Dalam situs itu tidak dijelaskan bagaimana prinsip kerja teknolog itu. Hanya digambarkan bahwa prinsipnya sama seperti mengubah impuls listrik menjadi getaran mekanis di speaker. Hanya saja prosesnya dibalik.

Jadi ada mekanisme yang menangkap getaran-getaran mekanis lalu diubah menjadi energi listrik. Energi ini kemudian dipakai untuk menyalakan sebagian lampu penerangan jembatan.




Source: inikah.com

50 Tahun IC Mengubah Dunia

Bila Jack Kilby tidak pernah menemukan integrated circuit (IC), komputer saat ini mungkin masih diletakakan di cabinet dari kayu mahoni yang besar dan kuat dengan serangkaian katup dari kuningan. Atau setidaknya dalam kotak-kotak besar yang isinya transistor yang di solder dengan tangan. Penemuan IC mengubah itu semua dan mengubah dunia. Bulan ini dunia merayakan penemuan IC ke 50 tahun.

IC atau microchip pertama di demonstrasikan Jack Kilby (dari Texas Instruments) pada 12 September 1958. Saat itu tidak terlalu diperhatikan. Tapi akhirnya Texas Instrument mengakui bahwa Kilby sering mengatakan dirinya akan dikenal sebagai orang yang pertamakali menunjukkan IC bisa beroperasi.

Saat itu microchip buatan Kilby bisa menghasilkan gelombang sinus di layar osiloskop.

IC buatan Kilby itu terdiri dari selarik germanium yang diletakkan di di tengah lempengan kaca, dengan ukuran 7/16 inch x 1/16inch.. Dengan kabel yang menonjol, dan hanya satu transistor, beberapa resistor dan sebuah capasitor, microchip ini terbilang primitive untuk ukuran saat ini. Namun, IC ini membuka pintu gerbang untuk produksi massal chip yang mengandung lebih banyak transistor tanpa harus direpotkan dengan proses mengelas dengan tangan yang merepotkan.

Bila membandingkan fakta bahwa pada tahun 50-an computer masih seukurang gudang dan kini menjadi perangkat yang di jinjing, bisa dibanyakan betapa cepat pertumbuhan IC yang mungkin tidak terbayangkan oleh Jack Kilby.



source:inilah.com

Singkong dan Kelapa Sawit Sebagai Energi Alternatif

Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman (2005)menegaskan, kemajuan teknologi kini mampu mengubah singkong dan kelapa sawit menjadi energi alternatif dalam mengatasi krisis bahan bakar minyak (BBM).

“Singkong dapat diolah menjadi bioetanol dan kelapa sawit menjadi biodiesel yang bisa dimanfaatkan dengan mencampur sepuluh persen dari keempat jenis BBM,” kata Kusmayanto Kadiman kepada wartawan di Sanur, Bali, Rabu (13/7/2005).

Sebelum membuka Pertemuan Forum Kelautan Indonesia (The Indonesia Ocean Forum 2005 and the 13th PAMS/JECSS Workshop), ia mengemukakan, pencampuran 10 persen BBM dengan bioetanol dan biodiesel sangat dimungkinkan, sesuai ketentuan yang ditetapkan internasional.



“Jika 10 persen bahan pencampuran BBM itu dapat diproduksi Indonesia, akan sangat membantu dalam menghemat penggunaan BBM,” ungkapnya.

Indonesia dalam penyusunan APBN 2005 mengalokasikan dana untuk subsidi BBM sebesar Rp 90 triliun, dengan perhitungan harga minyak di pasaran dunia 35 dollar AS per-barel.

Namun, kondisi sekarang harga minyak di pasaran dunia mencapai 60 dollar AS per-barel, sehingga akan sangat mempengaruhi subsidi keuangan negara.

Oleh sebab itu, beberapa alternatif untuk menghemat penggunaan BBM telah ditawarkan, termasuk diantaranya teknologi pengolahan singkong dan kelapa sawit.

Menristek menilai, penerapan teknologi pengolahan hasil perkebunan harus didukung oleh kebijakan pemerintah, agar kalangan swasta dan investor tertarik menerapkan teknologi tersebut.

Penerapan teknologi pengolahan singkong dan kelapa sawit sebagai bahan pencampur BBM tidak mungkin dilakukan oleh pemerintah, ujarnya, yang mengaku telah membicarakan kemungkinan menerapkan teknologi tersebut dalam rapat kabinet.

Teknologi pengolahan singkong menjadi bioetanol sebenarnya sudah diterapkan di Lampung, namun kapasitasnya masih sangat terbatas. “Produk bioetanol sebagai bahan pencampur BBM telah saya terapkan pada mobil dinas dan 30 bus karyawan, tidak ada masalah,” ujar Menristek.

Jika kedua jenis bahan pencampur BBM itu dapat diproduksi, akan mampu menghemat sedikitnya Rp 9 triliun subsidi BBM dalam setahun, demikian Kusmayanto. (Ant/wsn)

Sumber : KCM

'Banyugeni' Energi Alternatif Baru

'Banyugeni' Energi Alternatif Baru



Krisis energi akibat melambungnya harga minyak mentah dunia, telah mendorong sebagian kalangan terus mencari solusi. Para peneliti dan akademisi di Yogyakarta misalnya, telah melakukan eksplorasi energi alternatif pengganti BBM dari air laut.

Meski mungkin masih kontroversial, penemuan baru ini patut dikembangkan sebagai sumber energi masa depan. Implikasi pengembangan produk energi alternatif dari air laut ini sangat luas, seperti pengurangan beban biaya produksi semua sektor, dan secara langsung akan menghemat anggaran negara untuk subsidi BBM. Sekadar ilustrasi, subsidi BBM untuk tahun 2007 sudah mencapai Rp 50,64 triliun.

Mereka yang berhasil menemukan energi baru dari air laut adalah para peneliti di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Temuan energi alternatif itu telah dipatenkan dengan nama ‘Banyugeni’, yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘air api’.

Sesuai namanya, Banyugeni merupakan energi berasal dari air (hidrofuel). Banyugeni mempunyai varian produk berupa hidro-kerosene (setara minyak tanah), hidro-diesel (setara solar), hidro-premium (setara bensin), dan hidro-avtur (setara bahan bakar jet). Produk-produk itu akan terus dikembangkan untuk mendapatkan kualitas terbaiknya.

Untuk menghasilkan hidrofuel, digunakan teknologi mekanotermal-elektrokemis yang mencakup empat macam proses, yaitu mekanik (gerak), thermal (panas), listrik, dan kimiawi.

Perpaduan keempat proses itu, dengan bahan baku air yang sangat natural, akan menghasilkan beberapa produk bahan bakar yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan polusi bagi lingkungan.

Kandungan unsur dan sifat bahan bakar yang sudah diolah pada Banyugeni memungkinkannya langsung digunakan pada mesin tanpa terlebih dahulu mengubah atau memodifikasi komponen.

Hasil uji coba menunjukkan hidro-kerosene dapat langsung digunakan untuk menyalakan kompor minyak tanah, lampu minyak, atau petromaks.

Pun hidro-diesel dapat langsung digunakan pada mesin diesel atau mobil dengan bahan bakar solar, sedangkan hidro-premium dapat langsung digunakan pada mobil, motor, atau mesin berbahan bakar bensin dan pesawat aeromodeling.

Sementara hidro-avtur telah diujicobakan pada mesin berbahan bakar jet, misalnya untuk pesawat aeromodeling.

Inspirasi penelitian hidrofuel ini, sebagaimana dikemukakan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr Khoiruddin Bashori, berasal dari ayat-ayat Al-Qur'an, At-Thur ayat 6 dengan kata kunci 'perhatikan laut yang berapi', Al-Anbiya' ayat 30 ('Kami jadikan dari air segala sesuatu hidup'), dan At-Takwir ayat 6 ('apabila laut dipanaskan’).

Berdasarkan ayat-ayat tersebut, para peneliti UMY berupaya mengakomodasikan sinyal-sinyal teknologi yang termaktub dalam al-Qur'an, dengan melakukan penelitian dan pengembangan.

Produk-produk dari air laut itu itu aman digunakan. "Tidak korosif, beremisi sangat rendah, dan tidak menyisakan banyak residu," kata Khoiruddin.

Hidro-premium tidak bersifat korosif sehingga tidak menyebabkan karat (skala copper strip corrosion 1a). Ia juga tidak meninggalkan residu (hanya 0,5% vol dari maksimal 2,0 % vol yang diijinkan).

Selain itu kandungan bahan pencemar dari emisi bahan bakar ini sangat rendah, antara lain kandungan sulfur hanya 0,03% wt (dari maksimal 0,05 % wt yang diijinkan) dan kandungan timbal (Pb) hampir nol (dari maksimal 0,013 yang diijinkan). Pada pengujian terhadap pesawat aeromodeling, bahan bakar ini ternyata cukup bagus, memberikan rpm di atas 16.000.

Hidro-avtur juga tidak korosif dan beremisi rendah (total sulfur hanya 10% dari maksimal yang dipersyaratkan) dan tidak mudah membeku (freezing point -45oC). Dari pengujian terhadap pesawat aeromodeling, bahan bakar ini dapat digolongkan sebagai bahan bakar jet.

Untuk penggunaan sebagai jet-fuel, hidro-avtur ini sangat istimewa karena akan tetap bersifat dingin. Ia memiliki IBP (initial boiling point) 164 derajat Celcius. Demikian juga Hidro-diesel, tidak bersifat korosif (copper strip 1a), IBP 201 derajat Celcius, beremisi rendah, dan tidak meninggalkan residu berlebihan, dengan indeks Cetane 51,3.

Hasil pengujian terhadap hidro-kerosene memperlihatkan bahwa bahan bakar rakyat tersebut tidak korosif (copper strip corrosion 1a), IBP 161oC, tidak beracun dan tidak beremisi (total sulfur 0,03% wt dari max 0,2% wt yang diijinkan), dan tidak meninggalkan residu (hanya 0,5 %vol).

Produk-produk itu telah diuji di PT CoreLab Indonesia, sebuah laboratorium internasional yang independen. Hasilnya secara meyakinkan menunjukkan bahwa keempat varian Banyugeni itu telah memenuhi standar Ditjen Migas.

Para ilmuwan Universita Muhammadiyah Yogyakarta (UGM) itu menyatakan, penelitian ini akan terus dikembangkan, tidak saja pada level laboratorium, namun juga level industri. Tentu saja diharapkan temuan ini dapat memenuhi kebutuhan energi pada sektor transportasi, industri, dan sektor rumah tangga dengan harga yang murah.



source: inilah.com

Rabu, 17 September 2008

konsep konversi energi

Konsep konversi energi adalah merubah suatu bentuk energi ke bentuk energi yang lain sesuai dengan yang dikehendaki. Pada dasarnya, pengkonversian energi adalah untuk memanfaatkan sumber energi yang tidak bisa dimanfaatkan secara langsung. Contoh bentuk energi tidak siap-guna dan tidak mudah-pakai ialah minyak bumi mentah, gas alam, sinar matahari, air laut, batubara tambang, dan masih banyak lagi. Pada saat ini, pengkonversian energi lebih dikonsentrasikan pada sumber energi terbarukan seperti angin, panas bumi, uap/gas, dan air. Sedangkan sumber energi tak terbarukan seperti minyak bumi dan batubara cenderung dimanfaatkan untuk konsumsi rumah tangga dan industri. Adapun contoh dari konversi energi adalah konvergi energi panas bumi. Energi panas bumi adalah energi yang dihasilkan oleh tekanan panas bumi. Energi ini dapat digunakan untuk menghasilkan listrik, sebagai salah satu bentuk dari energi terbaharui.
Contoh lainnya adalah konversi energi cahaya matahari. Dalam pengkonversiannya, menggunakan sebuah alat semikonduktor yang disebut sel photovoltaic. Konversi energi cahaya matahari menjadi energi listrik ini sangat bermanfaat, terutama di wilayah terpencil yang belum terjangkau oleh jaringan listrik dari PLN.


Referensi: wikipedia.com

Senin, 15 September 2008

Sistem Pembangkitan PLTP Kamojang

Pada bulan Agustus tahun lalu, saya sempat melakukan penelitian di PLTP Kamojang. Adapun sebagian dari hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

SISTEM PEMBANGKITAN PADA UNIT BISNIS PEMBANGKITAN

PLTP KAMOJANG

1 Sistem Pasokan Uap PLTP Kamojang

1.1 Sistem Geothermal

Energi geothermal adalah salah satu bentuk energi primer yang terkandung di dalam bumi. Kalor alami di dalam bumi telah tersimpan selama ribuan tahun dalam bentuk gunung berapi, aliran lava, sumber air panas, dan geyser.

Bumi dikatakan terbentuk dari sejumlah massa cairan dan gas, yang 5 – 10%-nya adalah steam ( uap ). Sejalan dengan mencairnya fluida, dengan kehilangan panas pada permukaannya,sebuah lapisan luar padat terbentuk dan steam terkondensasi membentuk lautan dan danau di atas lapisan tersebut. Lapisan ini tebalnya sekitar 32 km. Di bawah lapisan itu, magma cair masih dalam proses pendinginan.

Gerakkan getaran bumi pada awal periode Cenizioc menyebabkan magma semakin mendekat ke permukaan bumi di sejumlah tempat dan lapisannya patah serta membuka. Magma panas didekat permukaan kemudian memunculkan gunung – gunung berapi yang aktif, sumber air panas, dan geyser yang mengandung air. Halini juga mengakibatkan steam menerobos lewat retakan yang disebut fumarol.

Gambar 1. menunjukkan system geothermal yang umum. Magma panas di dekat permukaan memadat menjadi batuan igneous ( batuan vulkanik ). Kalor magma dikonduksikan melalui batuan ini. Air tanah yang menemukan jalannya melalui retakkan akan dipanasi oleh panasnya batuan dengan percampuran antara gas panas dan steam yang keluar dari magma.

Air yang telah dipanasi kemudian akan naik dengan konveksi ke batuan berpori dan permeable di atas lapisan atas batuan igneous. Reservoir ini ditutup oleh lapisan batuan padat yang memerangkap air panas panas di dalam reservoir. Batuan padat ini bagaimanapun memiliki retakkan yang berfungsi sebagai katup pada boiler raksasa. Katup ini tampak di permukaan sebagai geyser, fumarol, atau sumber air panas. Sebuah sumur mengalirkan steam dari retakkan untuk kemudian digunakan di pembangkit listrik tenaga panas bumi.

Dapat dilihat bahwa uap geothermal terdiri ats dua macam yaitu yang dibentuk dari magma (magmatic steam ) dan yang dibentuk dari air tanah yang dipanasi oleh magma ( meteoritic steam ).

Gambar 1 Struktur geologi daerah panas bumi

1.2 Sumur Uap

Sumur uap merupakan sumber pemasok utama energi uap yang akan disalurkan ke system PLTP. Adapun sumur uap yang dibuat didasarkan atas adanya lapisan yang mendapatkan energi panas dari magma yang ada pada perut bumi. Magma yang mempunyai temperatur lebih dari 1200 0C ini mengalirkan energi panas bumi secara konduksi pada lapisan batuan yang berupa bed rock, diatas lapisan inilah terdapat lapisan yang mngandung air. Selanjutnya, air dalam lapisan tersebut mngambil energi panas dari bed rock secara konveksi dan induksi. Kondisi ini mengakibatkan suhu padalapisan aquifer yang memberikan kecendrungan untuk bergerak naik, akibat adanya perbedaan berat jenis.

Gambar 2 Struktur geologi daerah panas bumi

Ada beberapa data penting sumur uap / steam reservoir pada system PLTP Kamojang, yaitu sebagai berikut:

DATA – DATA RESERVOIR

URAIAN

KETERANGAN

Area reservoir:

Potensi

Luas area yang telah terbukti

Kapasitas total yang telah terbukti

Kapasitas terpasang

300 MW

14 – 21 Km

2

200 MW

140 MW

Data Fisik Reservoir:

Suhu

Kualitas uap

23

5 – 245 0C

96 % uap

Data Drilling:

Jumlah sumur

Kedalaman sumur

Produksi uap (Standar Completion)

68 buah

500 – 2200 Meter

54.000 Kg/J

1.3 Kandungan Kimia dan Kualitas Uap

Uap yang dihasilkan PLTP memiliki kandungan kimia dan kualitas uap yang apa adanya, tergantung dengan yang dihasilkan sumur uap. Uap panas bumi Kamojang termasuk salah satu yang memiliki kualitas uap yang terbaik di dunia. Walaupun demikian, uap tersebut harus dianalisis kembali oleh pihak PLTP Kamojang. Analisis ini dilakukan seriap seminggu sekali dengan tujuan memonitor kualitas uap yang akan dijadikan fluida kerja sebelum masuk ke system PLTP Kamojang. Hal ini dilakukanjuga oleh PT Pertamina ketika uap keluar dari sumur pengeboran.

Adakalanya beberapa kandungan kimia, Lumpur, dan material lain yang terterdapat pada uap panas bumi dapat mengurangi kinerja mesin pembangkitan ataupun merusak peralatan pembangkitan. Ada beberapa cara yang bias dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut. Salah satu cara yang digunakan untuk mengurangi lumpur dan material padat lainnya, yakni dilakukan oleh Pertamina Kamojang sebagai instansi pengelola sumur, uap yang keluar dari sumur harus di blow off tegak lurus selama selang waktu tertentu, sehingga lumpur dan material lainnya tidak terbawa karena perbedaan berat jenis.

1.4 Sistem Distribusi Transmisi Uap

Dari Pertamina sebagai pemasok, uap yang akan digunakan oleh PLTP Kamojang disalurkan melalui empat pipa yang langsung dipasang pada steam receving header. Pipa tersebut mempunyai diameter antara 600 – 1000 mm. Pipa – pipa tersebut ditemkatkan di atas permukaan tanah, tidak di dalam tanah. Hal ini ditujukan untuk mempermudah pengecekan apabila terjadi kebocoran pada pipa– pipa tersebut

.

Gambar 3 Pipa – pipa saluran uap

2 Sistem Pembangkitan PLTP Kamojang


Gambar 4 Flow Diagram PLTP Kamojang

System pembangkitan PLTP kamojang merupakan system pembangkitan yang memanfaatkan tenaga panas bumi yang berupa uap. Uap tersebut diperoleh dari sumur – sumur produksi yang dibuat oleh Pertamina. Uap dari sumur produksi mula – mula dialirkan ke steam receiving header, yang berfungsi menjamin pasokan uap tidak mengalami gangguan meskipun terjadi perubahan pasokan dari sumur produksi. Selanjutnya melalui flow meter, uap tersebut dialirkan ke Unit 1, Unit 2, dan Unit 3 melalui pipa – pipa. Uap tersebutdialirkan ke separator untuk memisahkan zat – zat padat, silica, dan bintik – bintik air yang terbawa di dalamnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya vibrasi, erosi dan pembentukkan kerak pada turbine. Uap yang telah melewati separator tersebut kemudian dialirkan ke demister yang berfungsi sebagai pemisah akhir. Uap yang telah bersih itu kemudian dialirkan melalui main steam valve ( MSV ) – governor valve menuju ke turbin. Di dalam turbin, uap tersebut berfungsi untuk memutar double flow condensing yang dikopel dengan generator, pada kecepatan 3000 rpm. Proses ini menghasilkan energi listrik dengan arus 3 fasa, frekuensi 50 Hz, dengan tegangan 11,8 KV. Melalui transformer step – up, arus listrik dinaikkan tegangannya hingga 150 KV, selanjutnya dihubungkan secara parallel dengan system penyaluran Jawa – Bali (interkoneksi).

Agar turbin bekerja secara efisien, maka exhaust steam / uap bekas yang keluar dari turbin harus dalam kondisi vakum, dengan mengkondensasikan uap dalam kondensor kontak langsung yang dipasang di bawah turbin.

Untuk menjaga kepakuman kondenseor, gas yang tak terkondensi harus dikeluarkan secara kontinyu olehsystem ekstraksi gas. Gas – gas inimengandung : CO2 85 – 90% H2S 3,5% dan sisanya adalah N2 dan gas – gas lainnya. Disini system ekstaksi gas terdiri atas first-stage dan second-stage ejector.

Gas – gas yang tidak dapat dikondensasikan, dihisap oleh steam ejector tingkat 2 untuk diteruskan ke aftercondensor, dimana gas gas tersebut kemudian kembali disiram leh air yang dipompakan oleh primary pump. Gas gas yang dapat dikondensasikan dikembalikan ke kondensor, sedanskan sisa gas yang tidak dapat dikondensasikan di buang ke udara.

Exhaust steam dari turbin masuk dari sisi atas kondensor, kemudian terkondensasi sebagai akibat penyerapan panas oleh air pendingin yang diinjeksikan lewat spray – nozzle. Level kondensat selalu dijaga dalam kondisi normal oleh dua buah main cooling water pump (MCWP) lalu didinginkan dalam cooling water sebelum disirkulasikan kembali. Air yang dipompakan oleh MCWP dijatuhkan dari bagian atas menara pendingin yang disebut kolam air panas menara pendingin. Menara pendingin berfungsi sebagai heat exchanger ( penukar kalor ) yang besar, sehingga mengalami pertukaran kalor dengan udara bebas.

Air dari menara pendingin yang dijatuhkan tersebut mengalami penurunan temperature dan tekanan ketika sampai di bawah, yang disebut kolam air dingin ( cold basin ). Air dalam kolam air dingin ini dialirkan ke dalam kondensor untukmendinginkan uap bekas memutar turbin dan kelebihannya ( over flow ) diinjeksikan kembali kedalam sumur yang tidak produktif, diharapkan sebagai air pengisi atau penambah dalam reservoir, sedangkan sebagian lagi dipompakan oleh primary pump, yang kemudian dialirkan kedalan intercondensor dan aftercondensor untuk mendinginkan uap yang tidak terkondensasi (noncondensable gas ).

System pendingin di PLTP Kamojang merupakan system pendingin dengan sirkulasi tertutup dari air hasil kondensasi uap, dimana kelebihan kondensat yang terjadi direinjeksi ke dalam sumur reinjeksi. Prinsip penyerapan energi panas dari air yang disirkulasikan adalah dengan mengalirkan udara pendingin secara paksa dengan arah aliran tegak lurus, menggunakan 5 fan cooling tower.

Sekitar 70% uap yang terkondensasi akan hilang karena penguapan dalam cooling tower, sedangkan sisanya diinjeksikan kembali ke dalam reservoir. Reinjeksi dilakukan untuk mengurangi pengaruh pencemaran lingkungan, mengurangi ground subcidence, menjaga tekanan, serta recharge water bagi reservoir. Aliran air dari cold basin ke kondensor disirkulasikan lagi oleh primary pump sebagai media pendingin untuk inter cooler dan melallui after dan intercondensor untuk mengkondensasikan uap yang tidak terkondensasi di kondensor, air kondensat kemudian dimasukkan kembali ke dalam kondensor.

3 Perangkat Utama PLTP Kamojang

Bagian – bagian utama dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Unit Bisnis Pembangkitan Kamojang adalah :

1. Steam Receiving Header

Merupakan suatu tabung yamg berdiameter 1800 mm dan panjang 19.500 mm yang berfungsi sebagai pengumpul uap sementara dari beberapa sumur produksi sebelum didistribusikan ke turbin. Steam Receiving Header dilengkapi dengan system pengendalian kestabilan tekanan (katup) dan rufture disc yang berfungsi sebagai pengaman dari tekanan lebih dalam system aliran uap. Dengan adanya steam receiving header ini maja pasokan uap tidak akan mengalami gangguan meskipun terdapat perubahan pasokan uap dari sumur produksi.


Gambar 5 Steam receiving header

2. Vent Structure

Merupakan bangunan pelepas uap dengan peredam suara. Vent structure terbuat dari beton bertulang berbentuk bak persegi panjang, bagian bawahnya disekat dan bagian atasnya diberi tumpukan batu agar pada saat pelepasan uap ke udaratidak mencemari lingkungan. Dengan menggunakan nozzle diffuser maka getaran dan kebisingan dapatdiredam. Vent structure dilengkapi dengan katup – katup pengatur yang system kerjanya pneumatic. Udara bertekanan yang digunakan untuk membuka untuk membuka dan menutup katup diperoleh dari dua buah kompresor yang terdapat di dalam rumah vent structure.

Pengoperasian vent structure dapat dioperasikan dengan cara manual ataupun otomatis (system remote) yang dapat dilakukan dari panel ruangan kontrol (control room).

Adapun fungsi dari vent structure adalah sebagai berikut:

· Sebagai pengatur tekanan ( agar tekanan uap masuk turbin selalu konstan),

· Sebagai pengaman yang akan membuang uap bilaterjadi tekanan lebih di steam receiving header,

· Membuang kelebihan uap jika terjadi penurunan beban atau unit stop.


Gambar 6 Vent Structure

3. Separator

Separator adalah suatu alat yang berfungsi sebagai pemisah zat – zat padat, silica, bintik – bintik air, dan zat lain yang bercampur dengan uap yang masuk ke dalam separator.

Kemudian kotoran dan zat lain yang terkandung dalam uap yang masuk kedalam separator akan terpisah. Separator yang dipakai adalah jenis cyclone berupa silinder tegak dimana pipa tempat masuknya steam dirancang sedemikian rupa sehingga membentuk arah aliran sentrifugal. Uap yang masuk separator akan berputar akibat adanya perbedaan berat jenis, maka kondensat dan partikel – partikel padat yang ada dalam aliran uap akan terpisah dan jatuh ke bawah dan ditampung dalam dust collector sampai mencapai maksimum atau sampai waktu yang telah ditentukan. Sedangkan uap yang lebih bersih akan keluar melalui pipa bagian atas dari separator. Kotoran yang ada dalam dust collector di – drain secara berkala baik otomatis ataupun manual. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya korosi, erosi dan pembentukan kerak pada turbin.

Data – data separator:

Code : ASME Sect. VII dev. 1

Desain tekanan : 1.0 Mpa

Desain temperatur : 205C

Pabrik : Burges Miure Co. Ltd


Gambar 7 Separator

4. Demister

Demister adalah sebuah alat yang berbentuk tabung silinder yang berukuran 14.5 m3 didalamnya terdapat kisi – kisi baja yang berfungsi untuk mengeliminasi butir – butir air yang terbawa oleh uap dari sumur – sumur panas bumi. Di bagian bawahnya terdapat kerucut yang berfungsi untuk menangkap air dan partikel – partikel padat lainnya yang lolos dari separator, sehingga uap yang akan dikirim ke turbin merupakan uap yang benar– benar uap yang kering dan bersih. Karena jika uap yang masuk ke turbin tidak kering dan kotor, akan menyebabkan terjadinya vibrasi, erosi dan pembentukkan kerak pada turbin. Uap masuk dari atas demister langsung menabrak kerucut, karena perbedaan tekanan dan berat jenis maka butiran air kondensat dan partikel – partikel padat yang terkandung dalam di dalam uap akan jatuh. Uap bersih akan masuk ke saluran keluar yang sebelumnya melewati saringan terlebih dahulu dan untuk selanjutnya diteruskan ke turbin.

Demister ini dipasang pada jalur uap utama setelah alat pemisah akhir (final separator) yang ditempatkan pada bangunan rangka besi yang sangat kokoh dan terletak di luar gedung pembangkit.


Gambar 8 Demister

5. Turbin

Hampir di semua pusat pembangkit tenaga listrik memilii turbin sebagai penghasil gerakkan mekanik yang akan diubah menjadi energi listrik melalui generator. Turbin yang digunakan disesuaikan dengan keadaan dimana turbin tersebut digunakan. Pada system PLTP Kamojang mempergunakan turbin jenis silinder tunggal dua aliran ( single cylinder double flow ) yang merupakan kombinasi dari turbin aksi ( impuls ) dan reaksi. Yang membedakan antara turbin aksi dan reaksi adalah pada proses ekspansi dari uapnya. Pada turbin aksi, proses ekspansi (penurunan tekanan) dari fluida kerja hanya terjadi di dalam baris sudu tetapnya saja, sedangkan pada reaksi proses dari fluida kerja terjadi baik di dalam baris sudu tetap maupun sudu beratnya.

Turbin tersebut dapat menghasilkan daya listrik sebesar 55 MW per unit aliran ganda dengan putaran 3000 rpm. Turbin ini dirancang dengan memperhatikan efisiensi, dan performanya disesuaikan dengan kondisi dan kualitas uap panas bumi.

Turbin di PLTP Kamojang dilengkapi dengan peralatan Bantu lainnya, yaitu:

· Turbin Valve yang terdiri dari Main Steam Valve ( MSV ) dan Governor Valve, yang berfungsi untuk mengatur jumlah aliran uap yang masuk ke turbin.

· Turning Gear ( Barring Gear ) yang berfungsi untuk memutar poros turbin pada saat unit dalam kondisi stop atau pada saat pemanasan sebelum turbin start agar tidak terjadi distorsi pada poros akibat pemanasan / pendinginan yang tidak merata.

· Peralatan pengaman, yang berfungsi untuk mengamankan badian – bagian peralatan yang terdapat dalam turbin jika terjadi gangguan ataupun kerusakan operasi pada turbin. Peralatan pengamn tersebut adalah : Eccentricity, Differential Expansion, tekanan minyak bantalan aksial, vibrasi bantalan, temperature metal bantalan, temperature minyak keluar bantalan, over speed, emergency hand trip.

Adapun data teknis atau spesifikasi turbin yang digunakan di PLTP Kamojang adalah sebagai berikut:

URAIAN

UNIT

KAMOJANG

UNIT 1

UNIT 2 & 3

Pabrik pembuat


Mitsubishi Heavy Industry. Ltd

Mitsubishi

Heavy Industry. Ltd

Tipe


Double Flow, 5 stage Condensing Turbin

Double Flow, 5 stage

Con

densing Turbin

Kapasitas

MW

30

55

Tekanan Uap Masuk

Bar

6.5

6.5

Tekanan Uap Keluar

Bar

0.1

0.1

Temperatur Uap

oC

161,9

1

61,9

Rotasi

rpm

3000

3000

Flow Uap

Kg/J

240000

388300


Gambar 9 Turbin


Gambar 10 Rotor Turbin

6. Generator

Generator adalah sebuah alat yang berfungsi untuk merubah energi mekanik putaran poros turbin menjadi energi listrik. PLTP kamojang mempergunakan generator jenis hubung langsung dan didinginkan dengan air, memiliki 2 kutub, 3 fasa, 50 Hz dengan putaran 3000 rpm.

System penguatan yang digunakan adalah rotating brushless type AC dengan rectifier, sedangkan tegangannya diatur dengan automatic voltage regulator ( AVR ). Kemampuan generator maksimum untuk unit 1 adalah 30 MW, sedangkan untuk unit 2 dan 3 adalah 55 MW.

Generator akan menghasilkan energi listrik bolak balik sebesar 11,8 kV ketika turbin yang berputar dengan putaran 3000 rpm mengkopel terhadap generator. Perputaran pada generator tersebut akan menghasilkan perpotongan gaya gerak magnet yang menghasilkan energi listrik.
Adapun data teknis atau spesifikasi dari generator yang digunakan di PLTP Kamojang adalah sebagai berikut:

URAIAN

UNIT

KAMOJANG

UNIT 1

UNIT 2 & 3

Pabrik Pembuatan


Mitsubishi Electric Corp

Mitsubishi Electric Corp

Phase


3

3

Frekuensi

Hz

50

50

Tegangan Pada Terminal

Volt

11.800

11.800

Rotasi

Rpm

3.000

3.000

Arus Pada Beban Nominal

Amp

1.835

3.364

Kapasitas

KVA

37.500

68.750


Gambar 11 Generator

7. Trafo Utama ( Main Transformer)

Trafo utama yang digunakan adalah type ONAN dengan tegangan 11,8 KV pada sisi primer dan 150 KV pada sisi sekunder. Tegangan output generator 11,8 KV ini kemudian dinaikkan ( step up trafo ) menjadi 150 KV dan dihubungkan secara parallel dengan system Jawa – Bali. Kapasitas dari trafo utama adalah 70.000 KVA.


Gambar 12 Trafo Utama

8. Switch Yard

Switch yard adalah perangkat yang dberfungsi sebagai pemutus dan penghubung aliran listrik yang berada di wilayah PLTP maupun aliran yang akan didistribusikan melalui system inter koneksi Jawa – Bali .

Gambar 13 Switch Yard

9. Kondensor

Kondensor adalah suatu alat untuk mengkondensasikan uap bekas dari turbin dengan kondisi tekanan yang hampa.. Uap bekas dari turbin masuk dari sisi atas kondensor, kemudian mengalami kondensasi sebagai akibat penyerapan panas oleh air pendingin yang diinjeksikan melalui spray nozzle. Uap bekas yang tidak terkondensasi dikeluarkan dari kondensor oleh ejector. Ejector ini juga berfungsi untuk mempertahankan hampa kondensor pada saat operasi normal dan membuat hampa kondensor sewaktu start awal. Air kondensat dipompakan oleh dua buah pompa pendingin utama ( Main Cooling Water Pump ) ke menara pendingin ( Cooling Tower ) untuk didinginkan ulang sebelum disirkulasikan kembali ke kondensor.

Pada saat sedang operasi normal, tekanan dalam kondensor adalah 0,133 bar, dan kebutuhan air pendingin adalah 11.800 m3/jam. PLTP Kamojang menggunakan kondensor kontak langsung yang dipasang dibawah turbin, karena kondensor kontak langsung memiliki efisiensi perpindahan panas yang jauh lebih besar daripada kondensor permukaan, sehingga ukuran dan biaya investasinya juga lebih kecil. Pemakaian kondensor ini sangat cocok karena pembangkit listrik tenaga panas bumi memiliki siklus terbuka sehingga tidak diperlukan system pengambilan kembali kondensat seperti yang dilakukan oleh PLTU konvesional.



Gambar 14 Kondensor

10. Main Cooling Water Pump ( MCWP )

Main cooling water pump ( MCWP ) adalah pompa pendingin utama yang berfungsi untuk memompakan airkondensat dari kondensor ke cooling tower untuk kemudian didinginkan. Jenis pompa yang digunakan di PLTP Kamojang adalah Vertical Barriel type 1 Stage Double Suction Centrifugal Pamp, dengan jumlah dua buah pompa untuk setiap unit.


Gambar 15 Main Cooling Water Pump ( MCWP )

11. Cooling Tower

Cooling tower ( menara pendingin ) yang terpasang di PLTP Kamojang merupakan bangunan yang terbuat dari kayu yang telah diawetkan sehingga tahan air. Terdiri dari 3 ruang dan 3 kipas untuk unit 1, sedangkan untuk unit 2 dan 3 terdiri dari 5 ruang dengan 5 kipas hisap paksa. Jenis yang digunakan adalah Mechanical Draught Crossflow Tower.

Air yang dipompakan dari kondensor didistribusikan kedalam bak (Hot Water Basin) yang terdapat di bagian atas cooling tower. Bak tesebut juga dilengkapi dengan noozle yang berfungsi utuk memancakan air sehingga menjadi butiran butiran halus dan didinginkan dengan cara kontak langsung dengan udara pendingin. Setelah terjadi proses pendinginan, air akan turun karena gaya gravitasi untuk seterusnya menuju bak penampung air ( Cool Water Basin ) yang terdapat di bagian bawah dari cooling tower dan seterusnya dialirkan ke kndensor yang sebelumnya melewati 4 buah screen untk menyaring kotoran – kotoran yang terdapat dalam air.

Aliran udara yang melewati tiap ruang pendingin dihisap ke atas dengan kipas hisap paksa tipe aksial. Setiap kipas digerakkan oleh motor listrik induksi dengan perantaraan gigi reduksi ( Reduction Gear ). Cooling tower dilengkapi dengan sisem pembasah (Wetting Pump System) yang gunanya untuk memompakan air dari cool water basin dan disemprotkan ke semua bagian dari cooling tower agar kondisi kayu tetap basah.



Gambar. 16 Cooling Tower

4 Sistem Kelistrikan di PLTP Kamojang

Listrik yang dihasilkan dari generator adalah sebesar 11,8 kV. Sebelum didistribusikan melalui system interkoneksi Jawa – Bali, listrik tersebut diolah diolah dengan memperhatikan karakteristik dan listrik itu sendiri.

4.1 System 150 kV

Listrik yang dihasilkan dari PLTP Kamojang Unit 1, 2, dan 3 dengan total daya yang dihasilkan yakni mencapai 140 MW akan dialirkan ke berbagai wilayah di pulau Jawa dan Bali melalui jaringan transmisi listrik 150 kV. Tegangan sebesar 150 kV tersebut dapat dihasilkan dengan cara menaikan tegangan 11,8 kV yang keluar darigenerator dengan menggunakan trafo utama ( step – up transformator ) pada masing – masing unit ( T21 dan T31 ). Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kehilangan daya pada saluran transmisi.

4.2 System 11,8 kV

System tegangan 11,8 kV merupakan hasil dari pembangkitan dari generator unit 1, unit 2, dan unit 3. Tegangan 11,8 kV ini kemudian akan dialirkan ke trafo utama step – up untuk dinaikkan menjadi sebesar 150 kV.

4.3 System 6,3 kV

Untuk mendapatkan tegangan sebesar 6,3 kV, dipasang beberapa transformator yaitu transformator T8 ( step – down transformator ) yang menghasilkan listrik dengan tegangan 6,3 kV dari tegangan primer 150 kV. Kapasitas trafo ini adalah 7 MWA yang berfungsi untuk menyediakan listrik pada saat start up, baik unit 1, unit 2, maupun unit3.

Trafo T22 dan T32 ( step – down transformator )yang menghasilkan tegangan listrik 6,3 kV dari tegangan generator 11,8 kV. Tegangan dari kedua trafo ini akan digunakan setelah unit beroperasi normal.

5 Sistem Pemeliharaan Mesin PLTP Kamojang

Mesin adalah suatu rangkaian yang dirangkai menjadi satu kesatuan dalam suatu system untuk mengerjakan suatu program atau kerja. Penggunaan mesin ini sangat luas cakupannya terutama dalam bidang perindustrtian. Karena cakupannya yang luas tersebut maka mesin dikategorikan menjadi beberapa bagian, seperti mesin perkakas, tools, mesin alat berat, otomotif, mesin produksi, dan sebagainya. Untuk itu konstruksi mesin dibuat pula berdasarkan aplikasi, factor – factor intern dan ekstern seperti pengaruh gaya, beban, bahan, kondisi lingkungan, pemakaian, fluida kerja, dan lain sebagainya.

Dalam hal ini, dengan karakteristik dari panas bumi yang tersedia secara kontinyu ( tidak terpengaruh oleh pergantian musim ) maka memacu perangkat konversi ( khususnya mesin ) untuk bekerja non stop dengan performa maksimal. Maka untuk menjaga agar pasokan uap yang dihasilkan dari energi panas bumi ini tidak terbuang maka disiapkan perangkat – perangkat pendukung serta cadangan. Selain itu, perangkat – perangkat bantu disediakan untuk kelancaran proses pembangkitan listrik.

Fenomena yang timbul pada system yang telah beroperasi lama dan terus menerus adalah terjadinya penurunan efesiensi pada seluruh perangkat system pembangkit.

Untuk menjaga agar perangkat pada system tetap memiliki efesiensi yangtinggi serta perangkat memilki umr operasi yang lama maka dilakukan penanganan khusus baik melalui tekhnik pemeliharaan, pelumasan, serta tekhnik pengoperasian yang procedural.

Tekhnik pemeliharaan yang dilakukan di PT. INDONESIA POWER UBP Kamojang ada 4 macam,diantaranya Preventif, Periodik, Prediktif, dan Korektif.

5.1. Pemeliharaan Preventif

Pemeliharaan yang dilakukan secara rutin yang sifatnya kontinyu

No.

Jenis pemeliharaan

Pemeriksaan

1.

RECEIVING HEADER

Kebersihan lokasi, kelainan suara, bocoran uap

2.

SEPARATOR

Line uap, penunjukan vibrasi, penunjukan suhu bantalan, kekencangan baut, kondisi support pipa, keutuhan pndasi, kebersihan dan tanda tanda korosi.

3.

DEMISTER

Line uap, suara, kekencangan baut, kondisi support pipa, keutuhan pndasi, kebersihan dan tanda tanda krosi.

4.

MAIN STOP VALVE ( MSV )

Line air, line uap, line pelumas, unjukan suara, vibrasi, suhu bantalan, kekencangan baut, kondisi fleks join, kondisi support pipa, kebershan dan tanda tanda korosi.

5.

GOVERNORE VALVE

Line uap, line pelumas, unjukan suara, vibrasi, suhu bantalan, kekencangan baut, kondisi fleks join, kondisi support pipa, kebershan dan tanda tanda korosi.

6.

TURBIN

Kebersihan turbin dan lokasi,kelainan suara, vibrasi, bocoran oli dan uap,serta tanda tanda korosi.

7.

EJECTOR

Line uap, line udara, kelainan suara, kekencangan baut, line pelumas, vibrasi, penunjukan level pelumas, kopling, support pipa, keutuhan pondasi, kebersihan.

8.

AFTER CONDENSOR

Line air, line uap, kelainan suara, kekencangan baut, support pipa, keutuhan pondasi, kebersihan dan tanda korosi.

9.

INTER CONDENSOR

Line air, line uap, kelainan suara, kekencangan baut, support pipa, keutuhan pondasi, kebersihan dan tanda korosi.

10.

PRIMARY PUMP

Kebersihan pompa, kelainan suara, vibrasi, bocoran air dan oli, kekencangan baut.

11.

SECONDARY PUMP

Kebersihan pompa, kelainan suara, vibrasi, bocoran air dan oli, kekencangan baut.

12.

MAIN COOLING WATER PUMP ( MCWP )

Kebersihan lokasi dan pompa, kelainan suara, vibrasi, bocoran line air.

13.

CONDENSOR

Line uap, line udara, kelainan suara, kekencangan baut, line pelumas, vibrasi, penunjukan level pelumas, kopling, support pipa, keutuhan pondasi, kebersihan dan tanda korosi.

14.

COOLING TOWER

Kebersihan hot basin, kebersihan nozzle, kelainan suara, bocoran air, bocoran oli, pemeriksaan level oli.

15.

FAN COOLING TOWER

Line uap, line pelumas, line air, kelainan suara, kekencangan baut,penunjukan suhu bantalan, pelumas katup, penunjukan level pelumas, kopling, support pipa, keutuhan pondasi, kebersihan dan tanda korosi.

16.

INTER COOLER

Line udara, line pelumas, line air, kelainan suara, kekencangan baut ,penunjukan suhu bantalan,, penunjukan level pelumas, kopling, support pipa, keutuhan pondasi, kebersihan dan tanda korosi.

17.

LUBE OIL COOLER

Line air, line pelumas, line udara, penunjukan suara, vibrasi, kekencangan baut, penunjkna level pelumas, kopling, kondisi support pipa, keutuhan pondasi, kebersihan tanda korosi.

5.2. Pemeliharaan Periodik

Pemeliharaan yang disesuaikan dengan jam operasi perangkat kerja guna penggantian pelumas dan penggantian spare part. Dan tekhnik pemeliharaan terumit dan beresiko adalah overhaul. Yaitu pemeliharaan perangkat utama yang dilakukan kurang lebih 12 bulanan atau 8000 jam kerja turbin. Pada saat dilakukan overhaul, semua perangkat baik itu perangkat Bantu maupunperangkat utama dalam satu unit pembangkitan dilakukan pemeliharaan. Inti dari overhaul adalah pemeriksaan dan pemeliharaan perangkat utama maupun perangkat bantu. Dan dilakukan penggantian bila perlu.

5.3. Pemeliharaan Prediktif

Pemeliharaan yang dilakukan berupa pengujian perangkat untuk menganalisis kinerja alat sehingga umur alat bias diprediksi serta dapat dilakukan pemeliharaan dan penggantian alat sebelum alat itu rusak total dan tidak berfungsi.

5.4. Pemeliharaan Korektif

Proses penggantian suatu perangkat saat perangkat itu rusak. Proses pemeliharaan ini diminimalisir dengan mengintefsikan proses pemeliharaan prediktif agar tidak terjadi kerusakan yang beruntun.

6 Data – Data Teknik

6.1. Turbin

Pabrik : Mitsubishi Heavy Industries LTD.

Type : Double Flow, 5 ( lima ) tingkat condensing turbin

Kapasitas : Unit I = 30 MW ( terminal G )

Unit II / III = 55 MW ( terminal G )

Tekanan uap masuk : 6,5 bar abs ( masuk MSV )

Tekanan uap keluar : 0,1 bar abs

Suhu uap masuk : 161,9o celcius

Putaran poros : 3.000 rpm

Konsumsi uap : Unit I = 250 ton/jam

Unit II/III = 388,9 ton/jam

6.2. Generator

Pabrik : Mitsubishi Electric Corp.

Phasa : 3 ( tiga )

Frekuensi : 50 Hz

Tegangan terminal : 11.800 Volt

Putaran : 3.000 rpm

Kapasitas : Unit I = 37.000 kVA

Unit II/III = 68.750 kVA

Arus nominal di MCR : Unit I = 1.835 A

Unit II/III = 3.364 A

Faktor daya : 0,8

6.3 Exciter

Pabrik : Mitsubishi Eletric Corp.

Type : Brushless

Tegangan : Unit I = 200 Volt

Unit II/III = 190 Volt

Arus : Unit I = 370 A

Unit II/III = 845 A

Kapasitas : Unit I = 128 kVA

Unit II/III = 278 kVA

Faktor daya : 0,9

Frekuensi : 200 Hz

Putaran : 3.000 rpm

6.4. Trafo Generator

Pabrik : Unit I = Asea

Unit II/III = Fuji Electric Corp.LTD

Type : ONAN

Tegangan primer : 11,8 kV

Tegangan sekunder : 150 kV

Frekuensi : 50 Hz

Phasa : 3 ( tiga )

Putaran : 3.000 rpm

6.5 Kondensor

Pabrik : Mitsubishi Heavy Industries LTD.

Type : Direct Contact, Spray/Tray jet.

Design Vacuum : Unit I = 0,13 bar abs

Unit II/III = 0,10 bar abs

Temperature air pendingin : Unit I = 29o celcius

Unit II/III = 27o celcius

Temperature air panas : Unit I = 49,6o celcius

Unit II/III = 45,8o celcius

Kapasitas air pendingin : 19,5 M3

6.6 Demister

Pabrik : Unit I = Mitsubisi Heavy Industries LTD.

Unit II/III = Mitsubishi Electric Corp.

Type : Vertical Drum

Aliran uap : Unit I = 250 ton/jam

Unit II/III = 400 ton/jam

Tekanan operasi : 6,5 bar abs

Temperature operasi : 161,9 derajat celcius

Tekanan design : 11 bar abs

Kapasitas : 19,5 M3

6.7 Cooling tower

Pabrik : Unit I = Ishikawajima Harima Industries

Unit II/III = Mitsubishi Heavy Industries LTD.

Temperature air masuk : Unit I = 51o C

Unit II/III = 43o C

Tempeatur air keluar : Unit I = 29o C

Unit II/III = 27o C

Putaran fan : Unit I = 113 rpm

Unit II/III = 129 rpm

Putaran motor : Unit I = 935/400 rpm

Unit II/III = 1000/750 rpm

Daya : Unit I = 100 KW/sel

Unit II/III = 120 KW/sel

Jumlah sel : Unit I = 3

Unit II/III = 5

6.8 Final Separator

Pabrik : Unit I = Mitsubishi Heavy Industries LTD

Unit II/III = Burgess-Miura Co. LTD.

Type : Statis Cyclone

Tekanan design : 10 bar abs

Temperature design : Unit I = 169o C

Unit II/III = 205o C

6.9 Unit Trafo 11,8/6,3 V

Pabrik : Unit I = Meiden

Unit II/III = Fuji Electric Corp.LTD

Type : ONAN

Tegangan Primer : 11,8 kV

Tegangan sekunder : 6,3 kV

Frekuensi : 50 Hz

Phasa : 3 ( tiga )

Kapasitas : 4.000 kVA

6.10 Unit Trafo 6.300/400 V

Pabrik : Unit I = Meiden

Unit II/III = Fuji Electric Corp. LTD

Type : ANAN

Tegangan primer : Unit I = 6.300 V

Unit II/III = 6.000 V

Tegangan sekunder : Unit I = 380 V

Unit II/III = 400 V

Off load tap range : ± 5%

Frekuensi : 50 Hz

Phasa : 3 ( tiga )

Kapasitas : Unit I = 1.250 kVA

Unit II/III = 1.750 kVA

6.11 Unit trafo T5-T6 ( Station Service ) 6.300/380 V

Pabrik : Fujy Electric Corp.

Type : ONAN

Tegangan pengenal : 6000/400 V

Frekuensi : 50 Hz

Phasa : 3 (tiga )

Kapasitas : 2,5 MVA

Arus pengenal : 241/3608 A

Impedansi : 9%

Kenaikan suhu : Belitan = 65o C

Minyak = 60o C

Symbol hubungan : Dyn 11

Berat total : 6.600 kg

Berat tanpa tanki : 4.800 kg

Total isi tanki isolasi : 1.950 liter

Tahun pembuatan : November 1986

6.12 Unit trafo 150/6,3 kV ( T8 )

Pabrik : Fuji Electric Corp.

Type : ONAN

Tegangan primer : 150 kV

Tegangan sekunder : 6,3 kV

Frekuensi : 50 Hz

Phasa : 3 (tiga )

Kapasitas : 7 MVA

Arus pengenal : 26,9/642 A

Impedansi : 10,78%

Kenaikan suhu : Belitan = 65o C

Minyak = 60o C

Symbol hubungan : YYN6

Berat total : 21.900 kg

Berat tanpa tanki : 10.500 kg

Pengubah sedapan : 550 liter

Tahun pembuatan : November 1986

Standard : IEC-76 ( 1986 )

Total isi minyak isolasi : 5.050 liter

6.13 Unit Trafo 150/20 kV ( T7 )

Pabrik : Fuji Electric Corp.LTD

Type : ONAN

Tegangan pengenal : 150/20 kV

Frekuensi : 50 Hz

Phasa : 3 ( tiga )

Kapasitas : 15 MVA

Arus pengenal : 57,7/433 A

Impedansi : 10,21 %

Kenaikan suhu : Belitan = 65o C

Minyak = 60o C

Simbol hubungan : Ynd5

Berat total : 35.000 kg

Berat tanpa tanki : 17.900 kg

Tahun pembuatan : November 1986

Total minyak isolasi : 7.050 liter

6.14 Pompa Air Pendingin Utama

Pabrik : Yoshiruka Kogya Corp. LTD.

Type : Sentrifugal, hisap ganda

Jumlah per unit : 2 ( dua ) buah

Kapasitas : Unit I = 3.700 m3/jam

Unit II/III = 6.400 m3/jam

Total head : Unit I = 28,5 m

Unit II/III = 33 m

Putaran : Unit I = 735 rpm

Unit II/III = 600 rpm

Daya : Unit I = 400 KW

Unit II/III = 773 KW

6.15 Pompa Intercooler Primer

Pabrik : Yoshikura Kogyo Corp. LTD

Type : sentrifugal, hisap ganda

Jumlah per unit : 2 ( dua ) buah

Kapasitas : Unit I = 560 m3/jam

Unit II/III = 760 m3/jam

Total head : Unit I = 20 m

Unit II/III = 30 m

Putaran : Unit I = 1.460 rpm

Unit II/III = 740 rpm

Daya : Unit I = 48 KW

Unit II/III = 85 KW

6.16 Pompa Intercooler Sekunder

Pabrik : Yoshikura Kogyo Corp. LTD

Type : Sentrifugal,hisap ganda

Jumlah per unit : 2 ( dua ) buah

Kapasitas : 350 m3/jam

Total head : 35 m

Putaran : 1.460 rpm

Daya : Unit I = 55KW

Unit II/III = 49 KW

6.17 Katup Pelepas Uap

Pabrik : Nippon Fisher

Type : Vee Ball

Jumlah : 6 ( enam ) buah

Ukuran : 4x16” dan 2x10”

Kapasitas pelepasan : 1264 ton/jam

6.18 Gas Ejector

Pabrik : Mitsubishi Heavy Industries LTD.

Type : Unit I = elemen tunggal, 2 tingkat

Unit II/III = elemen ganda, pancaran

Geothermal : Unit I = 2.350 kg/jam

Unit II/III = 1.885 kg/jam

Udara : Unit I = 150 kg/jam

Unit II/III = 290 kg/jam

Uap ( vapour ) : Unit I = 580 kg/jam

Unit II/III = 736 kg/jam

Temperature gas : Unit I = 32o C

Unit II/III = 29o C

Kapasitas tiap set : Unit I = 4.510 m3

Unit II/III = 23.900 m3

Jumlah set per unit : 1 ( satu ) buah